Polri Rilis Tersangka Teroris Aceh
Jakarta - Sejumlah kelompok teroris diketahui bersatu dalam jaringan Pamulang-Aceh. Mulai dari Jamaah Islamiyah (JI), kelompok Darul Islam (DI) Banten, serta eks alumni Ambon dan Poso. Polri masih melakukan penyelidikan tentang hal itu.
"Kami menemukan unsur-unsur itu," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang saat dihubungi detikcom, Minggu (14/3/2010).
Bersatunya kelompok teroris ini bisa dilihat dari latar belakang pelaku yang tewas ataupun tertangkap. Dulmatin adalah jaringan JI, Jaja alias Enceng Kurnia adalah jaringan DI Banten, serta sejumlah pelaku lainnya terkait kelompok yang pernah terlibat di konflik Ambon dan Poso.
"Tapi apakah memang mereka benar bersatu atau kebetulan, nanti masih didalami," jelasnya.
Edward enggan berbicara lebih banyak, termasuk apakah ada dugaan mereka akan melakukan serangan besar terkait aksi balas dendam atas tewasnya rekan mereka yang tewas ditembak ataupun ditangkap polisi.
"Nanti saja itu," elaknya. (ndr/nrl)
Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Maret 2010
Ladang Ganja Jadi Sumber Dana Teroris di Aceh
Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Jakarta - Kelompok teroris membutuhkan dana yang besar untuk melakukan operasi maupun kegiatan pelatihannya. Bagi kelompok teroris di Aceh, ladang ganja disinyalir menjadi sumber biaya bagi mereka.
"Untuk menghidupi sebuah operasi militer, mereka membutuhkan dana yang besar. Saya sangat percaya mereka menggunakan ladang-ladang ganja yang ada di Aceh dimana mereka bisa jual untuk menghidupi dan membiayai operasi militer," ujar pemerhati masalah teroris Mardigu dalam diskusi "Polemik: Masih Ada Teroris" di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (13/3/2010).
Mardigu kemudian mencontohkan, seorang gembong mafia di Polandia, Pablo Escobar, yang seringkali mendanai kegiatan terorisme melalui bisnis perdagangan narkoba miliknya dan para teroris di Afghanistan yang membiayai operasi mereka dari ladang opium yang dimiliki.
Dikatakan dia, dalam penjualan ganja tersebut, para teroris bekerja sama dengan warga lokal. "Pasti ada unsur lokal," cetusnya.
Menurut Mardigu, para teroris menggunakan ladang ganja disebabkan karena pilihan mereka sangat sulit untuk mendapat dana. "Sumber dana tidak datang dari asing, karena simpatisan mereka sudah tidak bisa bergerak lagi," jelasnya.
"Maka lahan ganja di sana menjadi sebuah potensi yang sangat memungkinkan untuk pembiayaan," imbuhnya.
Terhadap hal ini, anggota Komisi I DPR Dapil Aceh, Azwar Abubakar, membantahnya. Menurut dia, belum tentu ganja dijual untuk sumber biaya.
"Di Aceh, ganja mudah didapat tapi nilainya lebih tinggi kalau dibawa keluar Aceh. Saya kira menggunakan ganja untuk berdagang, belum," ujarnya.
(nvc/gah)
Jakarta - Kelompok teroris membutuhkan dana yang besar untuk melakukan operasi maupun kegiatan pelatihannya. Bagi kelompok teroris di Aceh, ladang ganja disinyalir menjadi sumber biaya bagi mereka.
"Untuk menghidupi sebuah operasi militer, mereka membutuhkan dana yang besar. Saya sangat percaya mereka menggunakan ladang-ladang ganja yang ada di Aceh dimana mereka bisa jual untuk menghidupi dan membiayai operasi militer," ujar pemerhati masalah teroris Mardigu dalam diskusi "Polemik: Masih Ada Teroris" di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (13/3/2010).
Mardigu kemudian mencontohkan, seorang gembong mafia di Polandia, Pablo Escobar, yang seringkali mendanai kegiatan terorisme melalui bisnis perdagangan narkoba miliknya dan para teroris di Afghanistan yang membiayai operasi mereka dari ladang opium yang dimiliki.
Dikatakan dia, dalam penjualan ganja tersebut, para teroris bekerja sama dengan warga lokal. "Pasti ada unsur lokal," cetusnya.
Menurut Mardigu, para teroris menggunakan ladang ganja disebabkan karena pilihan mereka sangat sulit untuk mendapat dana. "Sumber dana tidak datang dari asing, karena simpatisan mereka sudah tidak bisa bergerak lagi," jelasnya.
"Maka lahan ganja di sana menjadi sebuah potensi yang sangat memungkinkan untuk pembiayaan," imbuhnya.
Terhadap hal ini, anggota Komisi I DPR Dapil Aceh, Azwar Abubakar, membantahnya. Menurut dia, belum tentu ganja dijual untuk sumber biaya.
"Di Aceh, ganja mudah didapat tapi nilainya lebih tinggi kalau dibawa keluar Aceh. Saya kira menggunakan ganja untuk berdagang, belum," ujarnya.
(nvc/gah)
TNI Ikut Bantu Sergap Teroris di Aceh Besar
Jakarta - TNI ikut membantu Densus 88 dalam menyergap kelompok teroris di Leupung, Aceh Besar, hari ini. Informasi awal pergerakan kelompok teroris itu pun berasal dari intelijen TNI yang disampaikan ke Polri.
"Pada pukul 08.00 WIB, anggota unit intel Kodim menerima informasi ada kelompok yang mencurigakan yang naik mobil L300 dengan nopol BK 1116 GU. Lalu Dandim menginformasikan ke Danramil Lepung, Danramil kemudian memberi informasi ke Kapolsek," kata Kepala Dinas Penerangan Kodam Iskandar Muda Mayor CAJ Dudi Zulfadli dalam siaran pers, Jumat (12/3/2010).
Kelompok teroris itu sebelumnya naik L300 yang bergerak dari Lambaro
menuju Meulaboh. "Saat sweeping di dalam mobil L300 ditemukan 2 pucuk senjata AK 47," jelas Dudi.
Sweeping dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB. Lalu kontak senjata pecah selama 1 jam, sejak pukul 10.40 WIB. Petugas terdiri dari Polsek Leupung, Polres Jantho Aceh Besar dan dibantu Koramil Leupung Kodim Aceh Besar.
"Saat itu 2 penumpang berupaya meloloskan diri sambil menembak
menggunakan pistol, sehingga terjadi kontak tembak. Sedangkan yang 8 orang terkurung di mobil L300," beber Dudi.
Kontak tembak itu terjadi di Desa Lamsenia, Leupung, Kabupaten Abes, atau 100 meter dari jembatan Polsek Leupung. "2 Orang tewas, salah satunya ditembak oleh anggota Koramil Leupung. Sedang 8 orang yang tertangkap dalam penanganan pihak Polda Aceh," tuturnya.
Adapun barang bukti yang disita yakni 2 pucuk AK 47, 3 pucuk M-16, 1 pucuk pistol Glock, dan ratusan butir peluru.
(ndr/nrl)
"Pada pukul 08.00 WIB, anggota unit intel Kodim menerima informasi ada kelompok yang mencurigakan yang naik mobil L300 dengan nopol BK 1116 GU. Lalu Dandim menginformasikan ke Danramil Lepung, Danramil kemudian memberi informasi ke Kapolsek," kata Kepala Dinas Penerangan Kodam Iskandar Muda Mayor CAJ Dudi Zulfadli dalam siaran pers, Jumat (12/3/2010).
Kelompok teroris itu sebelumnya naik L300 yang bergerak dari Lambaro
menuju Meulaboh. "Saat sweeping di dalam mobil L300 ditemukan 2 pucuk senjata AK 47," jelas Dudi.
Sweeping dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB. Lalu kontak senjata pecah selama 1 jam, sejak pukul 10.40 WIB. Petugas terdiri dari Polsek Leupung, Polres Jantho Aceh Besar dan dibantu Koramil Leupung Kodim Aceh Besar.
"Saat itu 2 penumpang berupaya meloloskan diri sambil menembak
menggunakan pistol, sehingga terjadi kontak tembak. Sedangkan yang 8 orang terkurung di mobil L300," beber Dudi.
Kontak tembak itu terjadi di Desa Lamsenia, Leupung, Kabupaten Abes, atau 100 meter dari jembatan Polsek Leupung. "2 Orang tewas, salah satunya ditembak oleh anggota Koramil Leupung. Sedang 8 orang yang tertangkap dalam penanganan pihak Polda Aceh," tuturnya.
Adapun barang bukti yang disita yakni 2 pucuk AK 47, 3 pucuk M-16, 1 pucuk pistol Glock, dan ratusan butir peluru.
(ndr/nrl)
Operasi Teroris di Aceh Jenazah Jaja Tiba di RS Polri
Jakarta - Dua jenazah teroris yang tewas saat baku tembak dengan petugas di Aceh Besar tiba di kamar jenazah RS Polri dr Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur. Mereka diangkut dua ambulans dan dimasukkan dalam peti mati terpisah.
Pantauan detikcom, Minggu (14/3/2010), jenazah Enceng Kurnia alias Jaja alias Umar Yusuf, dan Pura Sudarman langsung dimasukkan ke dalam ruangan begitu tiba di RS Polri.
Polisi mengangkut jenazah Enceng dan Jaja dari Aceh dengan menggunakan pesawat Lion Air. Tidak tampak pengawalan ketat.
Jaja, salah satu tersangka kasus terorisme yang tewas dalam baku tembak di Aceh Besar pada Jumat 12 Maret siang. Dia merupakan aktivis NII dari kelompok Banten. Dia diketahui pernah mendapatkan pelatihan di Afghanistan dan Mindanao.
Jaja merupakan guru Imam Samudera. Dia adalah salah satu tokoh senior dan organisatoris handal. Disebut-sebut juga, dia pernah mengorganisir salah satu kamp pelatihan teroris Mindanao.
(nal/nrl)
Pantauan detikcom, Minggu (14/3/2010), jenazah Enceng Kurnia alias Jaja alias Umar Yusuf, dan Pura Sudarman langsung dimasukkan ke dalam ruangan begitu tiba di RS Polri.
Polisi mengangkut jenazah Enceng dan Jaja dari Aceh dengan menggunakan pesawat Lion Air. Tidak tampak pengawalan ketat.
Jaja, salah satu tersangka kasus terorisme yang tewas dalam baku tembak di Aceh Besar pada Jumat 12 Maret siang. Dia merupakan aktivis NII dari kelompok Banten. Dia diketahui pernah mendapatkan pelatihan di Afghanistan dan Mindanao.
Jaja merupakan guru Imam Samudera. Dia adalah salah satu tokoh senior dan organisatoris handal. Disebut-sebut juga, dia pernah mengorganisir salah satu kamp pelatihan teroris Mindanao.
(nal/nrl)
Langganan:
Postingan (Atom)