Ie krueng tripa ile meusintoeng
Ie krueng geudoeng ile meuputa
Udep lam donya bek euemboeng-euemboeng
Beutate untoeng wahe syedara
Kota meulaboh ceudah bukon le
Bak ujoeng pante pulo Sumatra
Beuna taingat keu uro page
Bek lale meujahe ‘oh wate lam donya
Alue bilie jalan meuwet-wet
Keulapak sawet punoh silingka
Bahkeueh teungku bahkeueh sayed
Asai sulet aso nuraka
Aneuk burujuk seunang bukon le
Ateueh bak pade meusuka ria
Tatuntut ‘eleumee beusare-sare
Beu ek meuhase peusenang poma
Pade sigupai tatajok di gle
Meunyoe pade P pula lam paya
meunyoe ka tajak beu ek meusampe
ta puwo S.Pd. keudeh bak poma
Wirduna
Banda Aceh
Tampilkan postingan dengan label Panton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panton. Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 April 2010
Kamis, 15 April 2010
Boh Peuneundang
kala itu
nurnya berseri
tak basi
remember me
memancar bak sang mentari
angin-angin enggan menghampiri
semua mata bertabir tuk memandangi
illa muhrimi
slalu terlindungi,
tertutupi
dari sentuhan noda, bebci, dan
tangan-tangan liar pencuri
suatu ketika
sang pejaka memilikinya
tak hanya cinta,
tak hanya jiwa,
tapi sepenuhnya
ya sepenuhnya
"senang dia", kata mereka yang pernah terpana
namun, ketika sang pejaka mencicipi
tak seperti simbol tabir dulu kala
sang bunga telah pecah dari kuntumnya
wangi pun beranjak darinya
sang pejaka pun murka, kecewa
tlah salah
salah
ya
salah melihat simbol lahir
tak sejalan dengan batin
sang pejaka meneteskan air mata
sambil terucap
"boh peuneundang pilihan hamba"
memang dunia tak mengetahuinya
walau demikian
sang pejaka tetap mencicipinya
meski madu tinggal sisa
29 Maret 2010
Ruang Kuliah RKU 4 Kampus Unsyiah
Banda Aceh
nurnya berseri
tak basi
remember me
memancar bak sang mentari
angin-angin enggan menghampiri
semua mata bertabir tuk memandangi
illa muhrimi
slalu terlindungi,
tertutupi
dari sentuhan noda, bebci, dan
tangan-tangan liar pencuri
suatu ketika
sang pejaka memilikinya
tak hanya cinta,
tak hanya jiwa,
tapi sepenuhnya
ya sepenuhnya
"senang dia", kata mereka yang pernah terpana
namun, ketika sang pejaka mencicipi
tak seperti simbol tabir dulu kala
sang bunga telah pecah dari kuntumnya
wangi pun beranjak darinya
sang pejaka pun murka, kecewa
tlah salah
salah
ya
salah melihat simbol lahir
tak sejalan dengan batin
sang pejaka meneteskan air mata
sambil terucap
"boh peuneundang pilihan hamba"
memang dunia tak mengetahuinya
walau demikian
sang pejaka tetap mencicipinya
meski madu tinggal sisa
29 Maret 2010
Ruang Kuliah RKU 4 Kampus Unsyiah
Banda Aceh
Bukan Tu(h)an
(lalu siapa perintis bekas tapakmu?)
mereka hanya melirik pelan,
tak melakukan
tak menentukan
lalu kenapa bujang dan gadis berpetaka,
pernahkah keluar sepatah kata dari mulut mereka
ataukah birasi yang duduk rapi di singgah sana.
Wirduna
Banda Aceh, 11 April 2010 jam 3:21
mereka hanya melirik pelan,
tak melakukan
tak menentukan
lalu kenapa bujang dan gadis berpetaka,
pernahkah keluar sepatah kata dari mulut mereka
ataukah birasi yang duduk rapi di singgah sana.
Wirduna
Banda Aceh, 11 April 2010 jam 3:21
Langganan:
Postingan (Atom)