Puisi| Wirduna Tripa
Tangannya meraba-raba
Ia bilang ini bukan dusta
Ia bilang ini bukan dosa
Ia bilang ini panggilan mata
“Haruskah meminta-minta?”
Tanyanya,
Bukankah tuhan tak suka kalau tangan di bawah
Meminta bukankah tangan di bawah
Sementara meraba tangan tersembunyi
Tak ada yang tahu
Dia, kamu
Malaikat pun ragu mengintip jemari pembisu
Kenapa harus malu
Meraba
Itulah pihan hidup
Terhormat tak ada yang tahu
Meraba
Meraba
Meraba
Senang....!!!!
Tak ada yang boleh melarang
Kera pelarang hanya sebatas melarang
Namun hanya jalan buntu curah pelanrang
Banda Aceh, 28 Februari 2011
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Februari 2011
Sabtu, 03 Juli 2010
MKN: Mahasiswa Ujung Tombak Kedaulatan Bangsa

DETaK| Wirduna Tripa
Banda Aceh- “Peran mahasiswa dan perguruan tinggi sangatlah urgen untuk menjaga dan mengawasi kedaulatan bangsa ini” demikian diutarakan Menteri Ketahanan Nasional Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro, MA, M. Sc, Ph. D., saat memberikan kuliah umum di gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Sabtu (3/6).
Saat ini pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, yang berdampak terhadap pelecehan atau pengambilan wilayah yang sudah menjadi milik Indonesia. Sebagai terobosannya pemerintah sekarang sudah menambah prajurit Tentara Negara Indonesia (TNI) baik angkatan darat, laut, maupun udara “Kita sudah mempunyai cukup banyak personil untuk menjaga kedaulatan negara ini” ungkap Purnomo.
Lanjutnya, namun demikian yang harus menjadi perhatian semua pihak bahwa kondisi personil TNI sekarang masih belum begitu baik, seperti fasilitas, dan sosial ekonomi yang belum berimbang.
Menanggap pertanyaan dari perserta terkait terobosan untuk menjaga pulau agar tidak diklaim oleh gegara asing, ia menjalaskan bahwa ke depan pemerintah akan berusaha untuk membuat monumen di setiap pulau yang sudah menjadi milik dan daerah editorial Indonesia “Kita telah dan akan membuat monumen pada setiap pulau” tandasnya tegas.
Dalam kesempatan itu, Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Darni M. Daud, MA., mengaharapkan agar mahasiswa dapat menjadi ujung berperan dalam menjaga ketahan dan kedaulatan Indonesia di masa mendatang. Bangsa ini sangat bergantung dari peran kaum akademisi, “Peran mahasiswa sangat signifikan dalam menamkan nilai nasionalisme, sehingga negara ini akan merasa dimiliki” tuturnya.
Kamis, 15 April 2010
Boh Peuneundang
kala itu
nurnya berseri
tak basi
remember me
memancar bak sang mentari
angin-angin enggan menghampiri
semua mata bertabir tuk memandangi
illa muhrimi
slalu terlindungi,
tertutupi
dari sentuhan noda, bebci, dan
tangan-tangan liar pencuri
suatu ketika
sang pejaka memilikinya
tak hanya cinta,
tak hanya jiwa,
tapi sepenuhnya
ya sepenuhnya
"senang dia", kata mereka yang pernah terpana
namun, ketika sang pejaka mencicipi
tak seperti simbol tabir dulu kala
sang bunga telah pecah dari kuntumnya
wangi pun beranjak darinya
sang pejaka pun murka, kecewa
tlah salah
salah
ya
salah melihat simbol lahir
tak sejalan dengan batin
sang pejaka meneteskan air mata
sambil terucap
"boh peuneundang pilihan hamba"
memang dunia tak mengetahuinya
walau demikian
sang pejaka tetap mencicipinya
meski madu tinggal sisa
29 Maret 2010
Ruang Kuliah RKU 4 Kampus Unsyiah
Banda Aceh
nurnya berseri
tak basi
remember me
memancar bak sang mentari
angin-angin enggan menghampiri
semua mata bertabir tuk memandangi
illa muhrimi
slalu terlindungi,
tertutupi
dari sentuhan noda, bebci, dan
tangan-tangan liar pencuri
suatu ketika
sang pejaka memilikinya
tak hanya cinta,
tak hanya jiwa,
tapi sepenuhnya
ya sepenuhnya
"senang dia", kata mereka yang pernah terpana
namun, ketika sang pejaka mencicipi
tak seperti simbol tabir dulu kala
sang bunga telah pecah dari kuntumnya
wangi pun beranjak darinya
sang pejaka pun murka, kecewa
tlah salah
salah
ya
salah melihat simbol lahir
tak sejalan dengan batin
sang pejaka meneteskan air mata
sambil terucap
"boh peuneundang pilihan hamba"
memang dunia tak mengetahuinya
walau demikian
sang pejaka tetap mencicipinya
meski madu tinggal sisa
29 Maret 2010
Ruang Kuliah RKU 4 Kampus Unsyiah
Banda Aceh
Bukan Tu(h)an
(lalu siapa perintis bekas tapakmu?)
mereka hanya melirik pelan,
tak melakukan
tak menentukan
lalu kenapa bujang dan gadis berpetaka,
pernahkah keluar sepatah kata dari mulut mereka
ataukah birasi yang duduk rapi di singgah sana.
Wirduna
Banda Aceh, 11 April 2010 jam 3:21
mereka hanya melirik pelan,
tak melakukan
tak menentukan
lalu kenapa bujang dan gadis berpetaka,
pernahkah keluar sepatah kata dari mulut mereka
ataukah birasi yang duduk rapi di singgah sana.
Wirduna
Banda Aceh, 11 April 2010 jam 3:21
Langganan:
Postingan (Atom)