Puisi| Wirduna Tripa
Tangannya meraba-raba
Ia bilang ini bukan dusta
Ia bilang ini bukan dosa
Ia bilang ini panggilan mata
“Haruskah meminta-minta?”
Tanyanya,
Bukankah tuhan tak suka kalau tangan di bawah
Meminta bukankah tangan di bawah
Sementara meraba tangan tersembunyi
Tak ada yang tahu
Dia, kamu
Malaikat pun ragu mengintip jemari pembisu
Kenapa harus malu
Meraba
Itulah pihan hidup
Terhormat tak ada yang tahu
Meraba
Meraba
Meraba
Senang....!!!!
Tak ada yang boleh melarang
Kera pelarang hanya sebatas melarang
Namun hanya jalan buntu curah pelanrang
Banda Aceh, 28 Februari 2011
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Februari 2011
Sabtu, 26 Februari 2011
Mencuri Sang Wali
Cerpen | Wirduna Tripa
Jamilah, itulah nama gadis kecil itu. Kini usianya telah menginjak lima belas tahun. Ia sekarang terdaftar sebagai siswa di salah satu Madrasah Aliyah Panti Asuhan di Koetaraja. Lima tahun sudah Jamilah melewati hari-harinya di Panti Asuhan. Hari-hari, Jamilah selalu disubukkan dengan berbagai aktivitas, siang dan malam hari, mulai dari beut, sekolah dan berbagai macam kursus ia tekuni. Hidupnya sangat terstruktur. Tak ada waktu yang ia lewati dengan sia-sia, meski banyak teman-temannya yang tak berpikir panjang dalam memanej waktu.
Para gure dan teungku-teugku panti sangat bangga padanya. Di mata para gure-nya, Jamilah adalah anak yang cerdas, pintar, rajin dan sopan santun. Ia tak pernah berjamaah dengan teman-temanya dalam hal bergosip. Selain sikapnya yang terpuji, Jamilah juga menjadi bahan diskusi para lelaki akan kemolekkannya. Tinggi semampai, badan langsing dan kulitnya sawo matang, membuat para lelaki menaruh perhatian lebih. Bahkan Teungku Idris pun sempat menaruh rasa pada muridnya yang elok itu. Namun Teungku Idris merasa belum saatnya untuk menyampaikan isi hati yang telah lama terbungkam.
Seiring bergulirnya waktu, Jamilah pun semakin dewasa dan menuntut ia untuk menata masa depan yang lebih kompleks. Teungku Idris adalah orang pertama yang ingin menghalalkan Jamilah lahir dan batin.
Seperti biasanya, ketika seorang wanita akan dinikahi. Maka ia harus mendapatkan restu atau izin dari walinya. Wali pun tak sembarang orang, tak bisa si gam panjo atau si gam bakoeng yang bisa menjadi wali nikah. Bila orang tua sendiri, itu pun harus beragama, paham dangan aturan-aturan agama serta amalannya tak perlu diragukan. Jika wali tak ada kriteria itu, maka dianjurkan seorang wali untuk ditaubatkan.
“Wali tak bisa sembarang orang” ucap Gure Ma’e, memberi penjelasan kepada Jamilah.
Jamilah hanya mengangguk-ngangukkan kepalanya mendengar tausiah dari Gure Ma’e. Gure Ma’e adalah Imum Mukim yang merangkap sebagai tokoh ulama di Mukim Koeta Jaya itu.
Hari-hari Gure Ma’e selain mengahabiskan waktu di lampoh, sebagian waktunya juga disisihkan untuk bermasyarakat. Maklumlah ia adalah seorang terpandang dalam bidang agama serta merangkap sebagai pemangku adat. Selain tausiah dan konsultasi agama, Gure Ma’e juga pemangku adat, namun sayangnya, Gure Ma’e hanya sebagai simbol adat sebagai Imum Mukim, namun delapan tahun sudah ia sebagai Imum Mukim, ia tak pernah berperan sebagai seorang pamangku adat adanya. Namun Gure Ma’e hanya berfungsi ketika ada masalah antar-gampong. Tapi Gure Ma’e tak pernah mempermasalahkannya, Gure Ma’e juga paham mungkin tugasnya selaku pemangku adat adalah sebagai penengah dari persoalan.
“Gure. Saya pulang dulu ya” pinta Jamilah.
“Assalamu’alaikum” ta’zim pisahnya.
Mundur rapi, perlahan Jamilah turun dari meunasah, hampir saja ia terpeleset dari tangga meunasah. Maklum meunasuh tersebut hampir saja usianya setengah abad. Dindingnya yang kian rapuh memberi jawaban akan usianya yang kian renta.
Perlahan Jamilah melangkahkan kaki beranjak dari meunasah Gure Ma’e.
“Siapa yang akan menjadi wali nikahku” besit Jamilah sembari ia berjalan pelan. “Apa aku tak bisa menikah tanpa adanya seorang wali? Atau aku harus mencari seorang wali?” tanya-tanya risih terus mencuat di kalbu Jamilah.
Ia bingung, akankah ia harus menghadirkan Wali Nanggroe nanti kala pernikahannya. Benaknya merawi “Wali Nanggroe’kan ada, lagi pula Wali Nanggroe’kan wali untuk semua orang yang ada di nanggroe dan itu termasuk aku orangnya karena aku adalah penghuni naggroe ini”.
Dengan hati riang, Jamilah mendatangi Meuligoe Wali Nanggroe. Ia berharap Wali Nonggre dapat menjadi wali nikahnya nanti. “Semoga Wali Nanggroe bersedia menjadi wali-ku nanti” tadahnya sembari mengamini.
“Jamilah....!!!!”
Teriak seorang areh.
“Bangun Jamilah! Salat Subuh” Jamilah pun terbangun mengangah, sambil ia berucap “asstaqfirullah...”. Ia pun beranjak dari tempat tidur.
Penulis adalah Mahasiswa Gemasastrin, Ketua Depertemen Informasi dan Komunikasi (Infokom) Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (Imabsii), juga sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Nagan Raya (Ipelmasra).
Titah Raja Kerdil

Sastra
Karya|Wirduna Tripa
Di ujung negeri kepulauan hijau ini, tersimpan setitik embun di bawah rereduhan pohon jelata yang sulit diketahui laqab-nya. Embun bening yang setiap pagi disapa mentari selalu memberikan kesejukan bagi mereka yang mendengarkan kabar. Kabar yang menggumam keseluruh negeri kepulauan, negeri jiran bahkan sampai ke negeri paman sam.
Peradaban tentang negeriku terhitung peka. Lembaran-lembaran sejarah masih memberi tanda tentang perjuangan mereka. Tentunya dalam mengukir peta perdaban dunia bersama rakyat jelata. Kebersamaan mereka utamakan dalam mengambil keputusan sehingga menghasilkan qanun-qanun yang relevan dan memberi ketenangan di berbagai sendi kehidupan. Barisan peta hijau gemilang. Siang malam rakyat jelata dapat memenjamkan mata dengan tenang.
Meski dulu meugo, meulaot dan berdagang sebagai profesi kehidupan, tak pernah dikesalkan. Keringat yang mengalir dari tubuh-tubuh kerdil, kecil dan hitam mendapat imbalan setimpal. “ulul’amriminkum” tak pernah pudar dari sisi kehidupan, tak punah diterjang peradan, tak kusam ditelan upah liar. Nurani jelata tak tersimpan legenda kusam, selalu memancar sejuknya embut yang hinggap di barisan ilalang, meski telah petang embun itu masih memancar bening kesejukan.
Kau bisa melihat? Semua itu sekarang hanya tersimpan dalam catatan lesuh di rak-rak jamuan bacaan. Bila kau ingin menemukan silakan berkunjung jamuan lafal, meski katalognya sembarang, tak beraturan. “Sempit catatan” mukin itu jawaban bila ada yang menanyakan. Ah… semua memang tak menentu.
Pucuk,dahan, batang, cabang bahkan sampai ke akar-akar layu dan hanya menyisakan rerantingan. Terbesit di hati untuk menebang, mehilangkan dari cacatan zaman hingga ia tak diketahui keadaan. Tinggi memang keinginan. Akan tetapi itu semua terlupakan, hilang diterpa ketakberdayaan. Ada yang mencoba menyiram batang-batang yang telah kusam, tak lama kemudian mereka pun terhapus dari catatan zaman. Hingga yang lain ciut dengan keadaan. Artikulasi terbungkam. Ada yang lantang tertahan dengan timpan. Hingga suaranya tertelan. Itulah benih-benih pecundang yang miring dengan keadaan. Benang yang telah terlintang berlahan rapuh dan kusam diterjang terik panas dan air tawan yang mengalir dari langit jingga.
Mereka telah lahir. Lihat! Titah-tinah kerajaan peninggalan sultan berteduh di bawah pohon yang hanya tinggal rerantingan. Terang-gelap bumi selalu dibasi air yang terjun tanpa henti dari bawah penerang bumi. Sungai dan parit-parit yang lurus berdiri semua tergenangi. Tetapi pohon kerdil ini tak pernah menyerab pemberian sang pengatur alam ini.
Dedaunan kian jatuh menepi. Peristiwa aneh pun kerap mengahantui. Batang dan cabang pohon kerap bermimpi, hingga dedauan layu dan turun ke bumi. “Batang ini masih sangat muda, tentu bukan usia, hanya bisa dijadikan tangga. Sungguh tak tepat bila ia penopang istana” usia pohon memang terhitung lama, tak cukup jemari tuk menghitungnya. Bahkan ditambah denga kedua kaki masih belum memadai. Mukin karena pohon itu berada di tepi kali yang dikelilingi tanah liat mati.
Penulis, Ketua Umum Gemasastrin FKIP Unsyiah 2009-2010 Ketua IPELMASRA, 2010-2012
Sabtu, 14 Agustus 2010
Misteri Ara Kundo

Wirduna Tripa
Angin sayup-sayup menerpa bebas. Sabit mengintip malu lewat celah atap daun rumbia lesu. Cecak pun tak berkotek, hanya diam terpana di dinding dan atap-atap, lenyap suara. Nyamuk tak menafkahi diri pada kulit-kulit kuning langsat itu. Suasana tenang, tentram, tak seciptaannya pun yang riuh-piuh. Hanya suara Gure Husen yang menggumam di meunasah itu. Bait-perbait keluar dari mulutnya dengan fasih, lalu bait-bait itu ia surah. Meski suara serak, namun lafal-lafal tak pernah janggal. Dulu, semasa ia masih di dayah, suaranya sangat bagus dan merdu, tetapi suara itu perlahan pamit darinya bersama asap-asap tembakau yang dilinting nipah kering.
Semua pasti berubah seiring perjalanan waktu. Tak ada yang dapat menghentikan itu. Begitu pun dengan usia yang dititipkan, balita hingga renta. Suka-duka, ceria, senang, bahagia, elok-buruk rupa, telah tercatat semua. Seperempat usia dari umur Gure Husen dihabiskan untuk seumeubeut di meunasah. Seusai senja beranjak, saban malamnya ia sudah menempati meunasah.
“Sekarang kalian dengarkan surah!” serunya.
Para santriwati memperhatian bait yang telah dibacakan Gure Husen. Salah seorang santriwati barisan belakang adalah Fatimah. Fatimah setiap malam selalu datang cepat. Sebelum Gure Husen tiba, Fatimah telah lebih dahulu tiba di meunasah. Ia yang selalu membentangkan tika seuke pada tempat duduk Gure Husen. Namun meski ia datang cepat, ia selalu menempati posisi paling belakang, tepat di samping pintu meunasah. Berbeda dengan teman-temannya, mereka selalu berebutan tempat duduk untuk memperoleh barisan paling depan.
Pernah suatu malam Fatimah ditanyai Gure Husen
“Mah… Kenapa kamu tidak duduk di depan saja?” tanya Gure Husen,
“Saya di sini saja Gure” jawabnya pendek.
Fatimah sangat jarang membuka mau mulut di depan Gure Husen, hanya saja bila ada surah-surah yang belum jelas baru ia mau membuka mulut, itu pun sangat jarang terjadi.
Seusainya pengajian, secara bergantian mereka menyalami Gure Husen. Seperti biasa Fatimah sebagai penutup salam, kenapa tidak? Karena ia selalu di posisi belakang. Saat ia menyalami Gure Husen pandangannya hanya ke lantai meunasah, ia enggan untuk bertatap muka dengan laki-laki termasuk Gure Husen. Padahal Gure Husen sudah berkepala empat. Mukena putih yang selalu menjadi tabir tangannya ketika bersalan dengan Gure Husen, bila dengan ia bersalaman dengan lelaki yang tak seperut dengannya, ia hanya mengisyarahkan dengan tangan saja.
Sambil bersalaman Gure Husen berkata
“Mah. Kalau kamu pulang sendiri hati-hati ya!”
“Iya Gure” Jawabnnya pendek,
Fatimah pun perlahan turun dari meunasah, hampir saja ia terpeleset di tangga meunasah yang telah rapuh itu. Maklum, meunasah itu sudah sangat senja usianya.
Jarak rumah Fatimah dengan meunasah tak begitu jauh, hanya sekitar sepuluh menit berjalan. Tetapi rumah Fatimah masuk jalan setapak sekitar dua ratus meter. Ia menapaki jalan-jalan sunyi yang hanya diterangi obor bambu yang dipegang dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan memegang kitab yang tertutup mukena. Ketika ia akan masuk lorang arah rumahnya, segerombolan lelaki berseragam keluar dari semak-semak pinggiran jalan di lokasi pohon pinang Haji Baka. Fatiamah sama sekali tak mengenal mereka, sebab gerombolan itu menghitamkan mukanya.
“Dub…dub…dub…”
Dada kiri Fatimah bergetar seketika,
seraya ia berucap
“Siapa kalian?”
Sampai tiga kali ia menanyakan itu, namun tak seorang pun dari gerombolan yang bersuara. Sembari bertanya dengan rasa takut yang sangat, ia mendekatkan culot ke wajah salah seorang lelaki bermuka hitam itu.
“Trappp….” suara jatuh culot
Lelaki berwajah hitam menghantap culot dengan sebilas senjata yang tak jelas jenisnya itu. Fatimah berteriak, namun teriakannya tak berarti bagi pendengar, orang gampong lebih memilih untuk berdiam diri di rumah dari pada menelusuri teriakan itu. Teriyakan hilang seketika saat sebelas pisau mendarat di leher Fatimah. ia tak kuasa, hanya diam terpana.
Beberapa saat kemudian, Fatimah dirangkul oleh tiga lelaki itu dan dibawa tenda semak buleket. Sesampai di tenda, mukena, jilbab besar serta seluruh kain yang menutupi kulit kuning langsat terpisah darinya. Tak sehelai benang pun tersisa. Air bening bengalir tanpa henti dari kedua matanya, ia tak dapat berkata apa-apa, tak kuasa. Lat batat tak riang, berhenti senda, mereka iba, namun tak kuasa berkata, konon lagi beranjak ke sana. Berjamaah, nafsu pejantan itu mengotori Fatimah. Mahkota yang sudah lama terjaga, tak pernah hinggap tangan berbisa, punah seketika.
Terbahak-bahak tawa mereka, setalah putaran pertama usai terlaksana. Tubuh Fatimah tegeletak di sana, lemah tanpa kuasa. Sendi-sendi tak berfungsi seakan terpisah antarnya. Darah mahkota menguburi masa depan dan cita dara itu. Hatinya bagai disayat-sayat sembilu. Akhirnya Fatimah tertidur lelap di bawah tenda beralaskan tanah gambut, sembari menguburkan kesedihan amat dalam yang menusuk ke ulu hatinya.
“Auhhhh…..” teriak Fatimah yang masih belum buka mata diri tidurnya. Gerombolan itu melempari Fatimah ke sungai Ara Kundo.
Fatimah terbangun saat badanya terkapar ke dalam air keruh Ara Kundo. Ia terjun bebas dari jembatan ke dalam sungai Ara Kundo. Ketika kepalanya terapung-rapung, ia sempat melihat gerombolan lelaki di atas jembatan, lelaki yang semalam menindihnya buas. Dingin sungai di fajar itu yang menusuk ke sum-sum menghantarkan Fatimah ke dasar Ara Kundo. Sesampai di dasar, Fatimah disambut ratusan penghuni Ara Kundo, tentu mereka yang lebih awal mendahuluinya. Mereka tersenyum melihat kedatangan tamu perempuan muda yang akan menjadi penghuni Ara Kundo.
Di kerumunan itu, Fatimah sempat melihat lelaki berkemeja panjang dipadu kupiah hitam yang menutupi ubannya. Lelaki yang sudah berumur itu sangat mirip dengan ayah Fatimah “Apa itu Ayah” besitnya. Ayahnya yang disebut-sebut hilang di masjid saat salat subuh dan tak diketemukan jasadnya. Fatimah ingin menghampiri lelaki itu untuk memastikan, namun pengawal Ara Kundo tak memberinya waktu, mereka membawa Fatimah menghadap Ule Balang Ara Kundo. Bagi setiap pendatang baru, sebelum resmi menjadi penghuni Ara Kundo diharuskan untuk menghadap Ule Balang terlebih dahulu.
Di sudut lain Fatimah juga melihat orang-orang yang pernah ia kenal dulu. Seperti Apa Lah. Apa Lah adalah Teungku Sagoe gampongnya, yang tempo dulu kami pernah kehilangnya. Tak jauh dari posisi Apa Lah berdiri, Fatimah juga melihat Mak Juned, “itu-kan Mak Juned” ucapnya cepat. Fatimah masih ingat betul wajah Mak Juned, sebab Mak Juned hampir setiap magrib awal bulan selalu datang ke rumah. Sesampai di rumah biasanya Mak Juned meminta sumbangan pada Mak Fatimah. Suatu ketika kebetulan Mak Fatimah belum menerima upah dari tempat ia bekerja, dan mereka hanya memberikan dua batok beras kepada Mak Juned.
Sepanjang perjalanan bersama kawalan jubah putih, Fatimah mendengarkan teriakan-terikan histeris “Bek poh lon, bek poh lon…!” Sementara di sudut lain ia juga mendengarkan suara-suara merdu yang melantunkan bait-bait suci. Mata Fatimah liar. Kedua telinga mencuri setiap suara yang menggumam “Tempat apa ini?” ucap hatinya. Sebuah kehidupan tumbuh di sana, di sungai amis itu, Ara Kundo.
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Idonesia FKIP Unsyiah, pengurus Gemasastrin FKIP Unsyiah dan UKM Pers DETaK Unsyiah.
Label:
aceh,
ara kundo,
Cerpen,
konflik,
pemerkosaan,
Sastra,
siksa,
wirduna tripa
Minggu, 27 Juni 2010
Ayah "Muhammad Gam"
Wirduna Tripa(Telah dimuat di Serambi Indonesia, 27 Juni 2010)KEMARAU telah lewat. Tiga pekan sudah hujan menguyur tanah kering ini, pertanda musim hujan. Cahaya matahari perlahan menghilang di ujung laut biru, hilang berganti gelap. Dikeheningan senja, Nek Lot masih di lampoh Cek Amat. Ia membabat setengah rante rumput karena esoknya akan berpindah kerja ke lampoh jagung milik Keuchik Adam. Dalam sepuluh tahun terakhir ini Nek Lot sudah menggeluti pekerjaan sebagai tung upah (upahan). Sejak Nek Gam meninggal, kehidupan Nek Lot memang tak menentu lagi yang harus berjuang sendiri agar bisa mengisi perut. Usianya yang renta apalagi bekerja sebagai tung upah, seharusnya ia beristirahat. Tapi semua ini harus dilakukan untuk bisa menyambung hidup di tengah beban yang saat ini makin berat.
Nek Lot hanya mewarisi sepetak tanah yang ditumbuhi coklat warisan Nek Gam, suaminya. Tapi tanah itu pun dirampas, setelah Pak Geuchik mengatakan tanah itu milik PT. Padahal setahunya sudah lima puluh tahun ia sebelum ia menikah dengan Nek Gam, tanah itu sudah ditempati. Tapi dikatakan milik PT, ya sudahlah. Nek Lot pasrah dan menyerahkan semua itu pada Yang Kuasa. Hari-hari dijalani Nek Lot. Biasanya sepulang ia dari tung upah, selalu membawa pulang beras sekantung plastic hitam dan beberapa ons ikan kase asin. Kadang kalau ia tak mendapatkan kerja, ia memberanikan diri menghutang di kedai Po Insyah. Untung Po Insyah yang selama ini begitu berbaik hati mau memberi hutang padanya.
Senja itu, Nek Lot setelah salat magrib menyuruh saya untuk berdoa dengan menadahkan tangan. “Kalau kita berdoa, pasti Allah mengabulkan dan memudahkan rezki kita,” ujarnya dengan suara serak. Waktu itu saya tak tahu apa yang harus bacakan. Untunglah Nek Lot hanya menyurus mengucapkan amin, amin, amin…di sela-sela bacaan doanya. Saya seperti bosan mengikuti Nek Lot, tapi suatu magrib, ia kembali menyuruh. Kali ini saya saya tidak menuruti perintahnya, tapi hanya duduk di belakang Nek Lot dan diam. Maka seusai ia berdoa, Nek Lot menjadi marah.
“Kenapa kamu tidak mengucapkan “amin” tadi?” serunya.
“Ima sudah bosan mengucapkan amin…amin… dan, amin… setiap malam” jawabku.
“Ima…! Kenapa kau berkata seperti itu Nak?” timpal Nek Lot.
“Capek! Setiap malam mengucapkan, tapi tak juga diberi uang yang banyak. Buktinya Nek Lot setiap sore hanya membawa pulang sekantung beras,” sanggahku.
Paginya, kulihat Nek Lot duduk di jambo belakang rumah. Tampak airmata meleleh dari pipinya yang sudah keriput. Bola mata yang dulu tajam, seperti tak lagi bercahaya.
“Mengapa Nek Lot menangis?” ketusku
“Kalau saja ayahmu masih hidup,” gumannya.
Pagi menjadi begitu mendung padahal matahari sudah cerah setinggi gala. Nek Lot hanya diam, kecuali menyebut ayah yang katanya meninggal di hutan setelah bertempur dengan gerombolan loreng. Saya tak tahu apa maksud gerombolan goreng. Kecuali pernah mendengar kata Pak Geuchik, bahwa saya anak kombatan akan disantuni oleh pemerintah karena ayah saya dulu meninggal di hutan. Tetapi sampai sekarang Pak Geuchik tak pernah berkata apa-apa lagi pada Nek Lot.
“Apa mungkin Pak Geuchik sudah lupa ya?” besitku.
Andai saja santunan ini masih berlanjut, saya mungkin tak perlu risau ketika saat ini sudah tamat SD untuk bisa melanjutkan ke SMP. Tapi sudah tiga kali saya tanyakan itu kepada Nek Lot, ia tak pernah mau membuka mulut. Saya tak berani menanyakan hal itu pada Pak Geuchik. Sebab saya dengar ia sekarang begitu sibuk mengurusi perkara tanah warga.
Ayah saya disebut-sebut “kombatan”. Tidak tahu kenapa orang-orang menggantinya nama ayah. Padahal yang saya tahu namanya Muhammad Gam, bukan kombatan.***
* Wirduna Tripa adalah mahasiswa PBSI, pengurus Gemasastrin FKIP Unsyiah.
Selasa, 27 April 2010
Hiem
Hi’em
1. Mak payoeng ijo
Aneuk payoeng sutra. Peu nyan?
‘bak pisang’
2. Bak sibak on si on
Meuribe thon han mala. Peu nyan?
‘aweuek’
3. On ube-be peudeung
Boh jih han ek tabileueng. Peu nyan?
‘boh jok’
4. On ube-be rencoeng
Boh ube-be tuyong. Peu nyan?
‘boh u’
5. On ube-be jeue
Bak ube-be ale. Peu nyan?
‘bak euempeuek’
6. Him-hop
Boh sikai peunoh kanot. Peunyan?
‘boh’
7. Ticem puteh
jilumpat pageu. Peu nyan?
‘ie babah’
8. Ta koh sibak
Rubah bandum. Peu nyan?
‘ureueng seumayang’
Uswatun Khasanah
Banda Aceh
Hi’em
1. Arang ube bruk
Meusipreuk bansaboh donya. Peu nyan?
‘mata uro’
2. Et no et medan
Tajak na trok than. Peu nyan?
‘kilang ceumeucop’
3. Ek gle tren gle
Meu tume aneuk gajah meukude. Peu nyan?
‘boh panah’
4. Blah deh lhok blah no lhok
Meujok-jok bak ujoeng jaroe, peu nyan?
‘due rumoh’
5. Mak jih ji eh
Aneuk jih ji gule-gule. Peu nyan?
‘batee lada’
6. On ube-be euemoing
Boh kiwing-kiwing. Peu nyan?
‘boh me’
7. On ube-be jeue
Boh ube-be aleh. Peu nyan?
‘boh putek’
8. Ma di sinan yah di sinan
Bak ujoeng boh laen nan. Peu nyan?
‘boh jantoeng’
9. Him-hop
Bu sikai punoh kanot, peu nyan?
‘boh janeng’
10. Apui hu
Bak ujoeng ranteng. Peu nyan?
‘boh campli’
Raziah
Banda Aceh
Panton
Taek u gle ta tarek awe
Pileh nyang sebe puwo u teumpat
Masa lam onya bek roh lam jahe
Beudoh bah hate jino ta tobat
Bukon saying ta pandang euekot
Di dalam laot ji wet-wet ikue
Bek le lalo beungoh ngon seupot
Beuna ta takot keu siksa kubu
Bukon sayang ta pandang tiong
Ateueh bak rambot sijudo dua
Aleran donya bek that ta sanjoeng
Nuraka tutoeng ta ingat beuna
Bak ie raya bek ta boh ampeh
Bak ie tireh bek ta then bube
Bek ta meurakan ngon si paleh
Hareuta teueh habeh geutanyoe male
Alfi Husna
Banda Aceh
1. Mak payoeng ijo
Aneuk payoeng sutra. Peu nyan?
‘bak pisang’
2. Bak sibak on si on
Meuribe thon han mala. Peu nyan?
‘aweuek’
3. On ube-be peudeung
Boh jih han ek tabileueng. Peu nyan?
‘boh jok’
4. On ube-be rencoeng
Boh ube-be tuyong. Peu nyan?
‘boh u’
5. On ube-be jeue
Bak ube-be ale. Peu nyan?
‘bak euempeuek’
6. Him-hop
Boh sikai peunoh kanot. Peunyan?
‘boh’
7. Ticem puteh
jilumpat pageu. Peu nyan?
‘ie babah’
8. Ta koh sibak
Rubah bandum. Peu nyan?
‘ureueng seumayang’
Uswatun Khasanah
Banda Aceh
Hi’em
1. Arang ube bruk
Meusipreuk bansaboh donya. Peu nyan?
‘mata uro’
2. Et no et medan
Tajak na trok than. Peu nyan?
‘kilang ceumeucop’
3. Ek gle tren gle
Meu tume aneuk gajah meukude. Peu nyan?
‘boh panah’
4. Blah deh lhok blah no lhok
Meujok-jok bak ujoeng jaroe, peu nyan?
‘due rumoh’
5. Mak jih ji eh
Aneuk jih ji gule-gule. Peu nyan?
‘batee lada’
6. On ube-be euemoing
Boh kiwing-kiwing. Peu nyan?
‘boh me’
7. On ube-be jeue
Boh ube-be aleh. Peu nyan?
‘boh putek’
8. Ma di sinan yah di sinan
Bak ujoeng boh laen nan. Peu nyan?
‘boh jantoeng’
9. Him-hop
Bu sikai punoh kanot, peu nyan?
‘boh janeng’
10. Apui hu
Bak ujoeng ranteng. Peu nyan?
‘boh campli’
Raziah
Banda Aceh
Panton
Taek u gle ta tarek awe
Pileh nyang sebe puwo u teumpat
Masa lam onya bek roh lam jahe
Beudoh bah hate jino ta tobat
Bukon saying ta pandang euekot
Di dalam laot ji wet-wet ikue
Bek le lalo beungoh ngon seupot
Beuna ta takot keu siksa kubu
Bukon sayang ta pandang tiong
Ateueh bak rambot sijudo dua
Aleran donya bek that ta sanjoeng
Nuraka tutoeng ta ingat beuna
Bak ie raya bek ta boh ampeh
Bak ie tireh bek ta then bube
Bek ta meurakan ngon si paleh
Hareuta teueh habeh geutanyoe male
Alfi Husna
Banda Aceh
Panton
Ie krueng tripa ile meusintoeng
Ie krueng geudoeng ile meuputa
Udep lam donya bek euemboeng-euemboeng
Beutate untoeng wahe syedara
Kota meulaboh ceudah bukon le
Bak ujoeng pante pulo Sumatra
Beuna taingat keu uro page
Bek lale meujahe ‘oh wate lam donya
Alue bilie jalan meuwet-wet
Keulapak sawet punoh silingka
Bahkeueh teungku bahkeueh sayed
Asai sulet aso nuraka
Aneuk burujuk seunang bukon le
Ateueh bak pade meusuka ria
Tatuntut ‘eleumee beusare-sare
Beu ek meuhase peusenang poma
Pade sigupai tatajok di gle
Meunyoe pade P pula lam paya
meunyoe ka tajak beu ek meusampe
ta puwo S.Pd. keudeh bak poma
Wirduna
Banda Aceh
Ie krueng geudoeng ile meuputa
Udep lam donya bek euemboeng-euemboeng
Beutate untoeng wahe syedara
Kota meulaboh ceudah bukon le
Bak ujoeng pante pulo Sumatra
Beuna taingat keu uro page
Bek lale meujahe ‘oh wate lam donya
Alue bilie jalan meuwet-wet
Keulapak sawet punoh silingka
Bahkeueh teungku bahkeueh sayed
Asai sulet aso nuraka
Aneuk burujuk seunang bukon le
Ateueh bak pade meusuka ria
Tatuntut ‘eleumee beusare-sare
Beu ek meuhase peusenang poma
Pade sigupai tatajok di gle
Meunyoe pade P pula lam paya
meunyoe ka tajak beu ek meusampe
ta puwo S.Pd. keudeh bak poma
Wirduna
Banda Aceh
Mengenal Syair
Syair merupakan puisi atau karangan dalam sastra melayu lama, dengan bentuk terikat yang mementingkan irama sajak.
Kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu syu'ur, yang berarti perasaan. Dari kata syu'ur, kemudian muncul kata syi'ru, yang berarti puisi dalam pengertian umum.
Dalam kesusasteraan Melayu, kata ini merujuk pada pengertian puisi secara umum. Namun, dalam perkembangannya, ia mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, dan tidak lagi mengacu pada tradisi sastra di negeri Arab.
Syair bukanlah kumpulan kata yang asal saja dan tidak memiliki makna. Justru, ia hadir membawa makna isi yang berhubung dengan kias ibarat, sindiran, nasihat, pengajaran, agama dan juga berisikan sejarah atau dongeng.
Adapun ciri-ciri Syair adalah sebagai berikut:
1. Merupakan puisi terikat.
2. Umumnya terdiri dari empat baris, agak mirip dengan pantun. Perbedaannya adalah, empat baris pantun merupakan dua baris sampiran dan dua baris isi yang berdiri sendiri. Sedangkan bait syair merupakan bagian dari sebuah cerita yang panjang.
3. Jumlah kata dalam satu baris tetap, yaitu 4-5 kata satu baris
4. Jumlah suku kata dalam satu baris juga tetap, yaitu antara 8-12 suku kata dalam satu baris
5. Rima akhir juga tetap yaitu a/a/a/a.
Contoh syair :
Seri Negeri gelaran diberi
Sebuah pulau cantik berseri
Bernaung dibawah sebuah negeri
Raja berdaulat Paduka Seri
Lautnya biru pantainya indah
Makam Mahsuri lagenda sejarah
Puteri Melayu tak mudah menyerah
Tujuh keturunan dimakan sumpah
Pulau lagenda dimakan sumpah
Tujuh keturunan tamatlah sudah
Kini makmur melimpah ruah
Semua penghuni tersenyum megah
Kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu syu'ur, yang berarti perasaan. Dari kata syu'ur, kemudian muncul kata syi'ru, yang berarti puisi dalam pengertian umum.
Dalam kesusasteraan Melayu, kata ini merujuk pada pengertian puisi secara umum. Namun, dalam perkembangannya, ia mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, dan tidak lagi mengacu pada tradisi sastra di negeri Arab.
Syair bukanlah kumpulan kata yang asal saja dan tidak memiliki makna. Justru, ia hadir membawa makna isi yang berhubung dengan kias ibarat, sindiran, nasihat, pengajaran, agama dan juga berisikan sejarah atau dongeng.
Adapun ciri-ciri Syair adalah sebagai berikut:
1. Merupakan puisi terikat.
2. Umumnya terdiri dari empat baris, agak mirip dengan pantun. Perbedaannya adalah, empat baris pantun merupakan dua baris sampiran dan dua baris isi yang berdiri sendiri. Sedangkan bait syair merupakan bagian dari sebuah cerita yang panjang.
3. Jumlah kata dalam satu baris tetap, yaitu 4-5 kata satu baris
4. Jumlah suku kata dalam satu baris juga tetap, yaitu antara 8-12 suku kata dalam satu baris
5. Rima akhir juga tetap yaitu a/a/a/a.
Contoh syair :
Seri Negeri gelaran diberi
Sebuah pulau cantik berseri
Bernaung dibawah sebuah negeri
Raja berdaulat Paduka Seri
Lautnya biru pantainya indah
Makam Mahsuri lagenda sejarah
Puteri Melayu tak mudah menyerah
Tujuh keturunan dimakan sumpah
Pulau lagenda dimakan sumpah
Tujuh keturunan tamatlah sudah
Kini makmur melimpah ruah
Semua penghuni tersenyum megah
RPP Bahasa Indonesia "Syair"
Sekolah : SMP
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : VII/I
Alokasi Waktu : 2x40 menit
Standar Kompetensi : Memahami wacana sastra jenis syair melalui kegiatan mendengarkan
syair
Kompetensi Dasar : Menemukan tema dan pesan dalam syair yang diperdengarkan
Indikator : 1. Mampu menentukan tema dalam syair yang diperdengarkan
2. Mampu menemukan pesan-pesan yang terdapat dalam syair yang
diperdengarkan
3. Mampu menyimpulkan syair yang diperdengarkan
A. Materi Pembelajaran
1. menemukan tema syair
2. cara menarik dan menyimpulkan pesan dalam syair dengan diperkuat dengan bukti yang
meyakinkan.
B. Metode Pembelajaran
1. pemodelan
2. diskusi
3. tanya jawab/komentar
C. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Awal
a. Guru mengajak siswa untuk mengidentifikasikan materi
b. Guru menanyakan kepada siswa tentang syair (secara umum)
c. Siswa diminta untuk memberikan/membacakan sebuah syair 10
Kegiatan Inti a. Guru menyuruh siswa untuk membentuk formasi kelas berbentuk leter U
b. Guru membagikan syair (media) kepada setiap siswa
c. Memberikan intruksi tentang teknik pembelajaran
d. Guru memutarkan syair dengan menggunakan tipe recorder (media)
f. Guru mengintruksikan kepada siswa untuk menyimak syair yang diperdengarkan
g. Meminta siswa untuk mendiskusikan sejenak tentang isi yang terkadung dalam syair
h. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan tema dan menemukan pesan yang terkandung dalam syair
i. guru memberikan peluang kepada siswa untuk memberi tanggapan dan komentar tentang materi pembelajaran
60
Kegiatan Penutup a. Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran
b. Meberikan tugas
c. Mengakhiri pembelajaran 10
D. Sumber Belajar
1. buku paket pelajaran bahasa Indonesia kelas VII
2. contoh teks syair
3. lagu (syair)
E. Penilaian
1. Teknik : tes tulis
2. Bentuk Instrumen : dokumen syair
3. Instrumen/Soal:
1) Jelaskan apa yang dimaksud dengan tema dan amanat!
2) Carilah satu buah syair, lalu temukan tema dan pesan yang terkandung dalam syair tersebut!
diketahui, Banda Aceh, 19 April 2010
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
Wirduna
Formasi Kelas 1
Formasi Kelas 2
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : VII/I
Alokasi Waktu : 2x40 menit
Standar Kompetensi : Memahami wacana sastra jenis syair melalui kegiatan mendengarkan
syair
Kompetensi Dasar : Menemukan tema dan pesan dalam syair yang diperdengarkan
Indikator : 1. Mampu menentukan tema dalam syair yang diperdengarkan
2. Mampu menemukan pesan-pesan yang terdapat dalam syair yang
diperdengarkan
3. Mampu menyimpulkan syair yang diperdengarkan
A. Materi Pembelajaran
1. menemukan tema syair
2. cara menarik dan menyimpulkan pesan dalam syair dengan diperkuat dengan bukti yang
meyakinkan.
B. Metode Pembelajaran
1. pemodelan
2. diskusi
3. tanya jawab/komentar
C. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Awal
a. Guru mengajak siswa untuk mengidentifikasikan materi
b. Guru menanyakan kepada siswa tentang syair (secara umum)
c. Siswa diminta untuk memberikan/membacakan sebuah syair 10
Kegiatan Inti a. Guru menyuruh siswa untuk membentuk formasi kelas berbentuk leter U
b. Guru membagikan syair (media) kepada setiap siswa
c. Memberikan intruksi tentang teknik pembelajaran
d. Guru memutarkan syair dengan menggunakan tipe recorder (media)
f. Guru mengintruksikan kepada siswa untuk menyimak syair yang diperdengarkan
g. Meminta siswa untuk mendiskusikan sejenak tentang isi yang terkadung dalam syair
h. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan tema dan menemukan pesan yang terkandung dalam syair
i. guru memberikan peluang kepada siswa untuk memberi tanggapan dan komentar tentang materi pembelajaran
60
Kegiatan Penutup a. Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran
b. Meberikan tugas
c. Mengakhiri pembelajaran 10
D. Sumber Belajar
1. buku paket pelajaran bahasa Indonesia kelas VII
2. contoh teks syair
3. lagu (syair)
E. Penilaian
1. Teknik : tes tulis
2. Bentuk Instrumen : dokumen syair
3. Instrumen/Soal:
1) Jelaskan apa yang dimaksud dengan tema dan amanat!
2) Carilah satu buah syair, lalu temukan tema dan pesan yang terkandung dalam syair tersebut!
diketahui, Banda Aceh, 19 April 2010
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
Wirduna
Formasi Kelas 1
Formasi Kelas 2
Gemasastrin Tampilkan Sastra Sufistik
Banda Aceh- Tidak seperti biasanya, Lobi FKIP sore itu Sabtu (26/12) disulap dengan sedemikian rupa. Kain hitam terbentang mengelilingi ruang. Sebuah panggung berdiri tegap. Di depan panggung terpasang sebuah lampu sorot yang memancarkan cahaya tepat ke latar pentas yang dibentang kain putih. Rerantingan terpajang pada setiap tiang. Seluruh ruang dikelilingi kain hitam yang terbentang. Ruang gelap, hanya tujuh batang lilin berperan sebagai penerang yang dinyalakan pada sudut-sudut ruang.
Suasana yang begitu berbeda sempat menimbulkan tanda tanya. Beberapa dari mereka (peserta) melontarkan pertanyaan pada panitia tentang suasana yang tak seperti biasanya “lho kenapa gelap sekali, apa tidak ada lampu?” ungkap salah seorang tamu, penasaran seperti memaksa akan sebuah penjelasan.
Itulah persembahan Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) dalam rangka memperingati lima tahun tsunami Aceh. Beda dengan lainnya memang. Suasana sufistik bernuansa sastra yang mereka cipta.
Nazar Alam, koordinator acara mengungkapkan bahwa kegiatan ini dikemasa dalam bentuk sastra sufistik. Selain Doa dan Zikir bersama, juga akan diisi oleh penampilan-penampilan kreteativitas Gemasastrin “acara ini kami kemas dalam bentuk sastra sufistik” imbuhnya sambil bersemangat.
Meseki langit Banda Aceh terlihat berkabut hitam, namun, kegiatan yang bertema “Kenangan Fiqih Kekasih Allah dalam Zikir Laut” tidak sedikit dikunjungi orang. Jarum jam tepat menunjukan pukul 17.00, para undangan mulai mengisi kursu depan ruang Lobi. Mulai dari para sastrawa, alumni mahasiswa kebahasaan dan dari berbagi kalangan memenuhi ruang remang-remang yang dikelilingi bentangan kain hitam.
Secara bergantian, para sastrawan membacakan hikayat tsunami dalam cahaya remang-remang.
“Hikayat ini saya persembahkan untuk korban tsunami” ungkap T.A Sakti sambil mengambil membuka sebuah buku kumpulan hikayat. Dengan penuh semangat, T.A Sakti melafalkan bait-bait hikayat goresan tintinya sendiri. Para peserta terpana dalam lantunan ritma-ritma hikayat sang pujangga.
Azan pun tiba, para peserta segera menuju sebuah musala yang terletak tepat di belakang gedung FKIP. Setelah salat magrib usai, ruangan bernuansa sufistik itu dipenuhi lantunan-lantuan asma Allah yang hinggap kesetiap celah ruang. Seorang ustad membaca bait-bait suci, tak ketingalan para jamah mengikuti rapi. Jamah begitu antusias menadahkan tangan, mengharap kepada Sang tuhan akan ampunan para mereka yang tenggelam.
Sesaat kemudian, Suasana tampak mencekam, ketika Akmal membacakan hikayat “Nyeri Aceh”. Perlahan Akmal keluar dari belakang panggung sambil membacakan bait-perbait hikayat Nyeri Aceh.
Akmal menuju ke arah para penonton, sebatang lilin di tangan kiri sebagai penerang lembaran hikayat. Sesekali Ia menggetarkian tangannya. Ekspresi semakin memuncak saat Akmal membacakan bait “peta-peta telah koyak, jangan kau tanyakan lagi di mana Meulaboh dimana Calang…” dengan nada meringis lantang.
Penonton hanya terdiam. Surya salah seorang penonton, mengaku sangat terharu dengan pembacaan puisi Nyeri Aceh. “saya sangat terharu” ungkapnya sambil menguluskan kedua tangan ke dada.
Tak lama kemidian, teatrikal panggung perempuan menggonjang suasana ruang. “auh…auh…” teriak beberapa orang perempuan yang merengek sambil kedua lutut menumpu ke alas. Suasana semakin menegangkan, saat teriakan lantang mengoncang sudut-sudut ruangan. Para perempuan bersaing memperebutkan keris di tangan seorang wanita tunggal. Penampilan itu mengandung makna amat dalam.
Rismawati, sutradara senior Gemasastrin mengatakan bahwa aksi teater ini mereka kemas dalam bentuk sufistik. Makna yang sangat mendasar adalah memberikan gambaran bahwa inong Aceh berwatak keras, sabar dan teguh dalam menghadapi cobaan. Selama ini perempuan Aceh tetap tegar dalam menghadapi kehidupan, mulai dari konflik sampai tsunami “inong Aceh sangat kuat dalam menghadapi tantangan hidup”, ungkap perempuan kelahiran Aceh Tengah itu.
Wirduna, Ketua Umum Gemasastrin, mengharapkan dengan pelaksanaan acara refleksi lima tahun tsunami Aceh, kiranya dapat menjadi suatu renungan bagi kita untuk mengingat akan makna kehidupan di samping mendoakan saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa dan tsunami.
Selain itu, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Menerutnya, acara ini dikemas dalam bentuk sastra sufistik bertujuan untuk memadukan sastra dengan religi yang sekarang sudah tidak sejalan lagi dalam kehidupan masyarakat Aceh khususnya. “kita ingin memadukan religi bernuansa sastra” pugkas putra kelahiran Nagan Raya.
Kita mengharapkan Gemasastrin akan dapat memproduksikan para ahli bahasa dan sastra yang tidak selalu berselimut dengan nilai-nilai agama. Dulu sastrawan Aceh selalu mengaitkan sastra dalam nuansa agama, tambahnya. Seperti Hamzah Fansuri, Aly Hasjymi, mencontohkan.
Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Unsyiah.
Sekarang sebagai Ketua Umum Gemasastrin dan aktif sebagai reporter Tobloid DETaK.
Suasana yang begitu berbeda sempat menimbulkan tanda tanya. Beberapa dari mereka (peserta) melontarkan pertanyaan pada panitia tentang suasana yang tak seperti biasanya “lho kenapa gelap sekali, apa tidak ada lampu?” ungkap salah seorang tamu, penasaran seperti memaksa akan sebuah penjelasan.
Itulah persembahan Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) dalam rangka memperingati lima tahun tsunami Aceh. Beda dengan lainnya memang. Suasana sufistik bernuansa sastra yang mereka cipta.
Nazar Alam, koordinator acara mengungkapkan bahwa kegiatan ini dikemasa dalam bentuk sastra sufistik. Selain Doa dan Zikir bersama, juga akan diisi oleh penampilan-penampilan kreteativitas Gemasastrin “acara ini kami kemas dalam bentuk sastra sufistik” imbuhnya sambil bersemangat.
Meseki langit Banda Aceh terlihat berkabut hitam, namun, kegiatan yang bertema “Kenangan Fiqih Kekasih Allah dalam Zikir Laut” tidak sedikit dikunjungi orang. Jarum jam tepat menunjukan pukul 17.00, para undangan mulai mengisi kursu depan ruang Lobi. Mulai dari para sastrawa, alumni mahasiswa kebahasaan dan dari berbagi kalangan memenuhi ruang remang-remang yang dikelilingi bentangan kain hitam.
Secara bergantian, para sastrawan membacakan hikayat tsunami dalam cahaya remang-remang.
“Hikayat ini saya persembahkan untuk korban tsunami” ungkap T.A Sakti sambil mengambil membuka sebuah buku kumpulan hikayat. Dengan penuh semangat, T.A Sakti melafalkan bait-bait hikayat goresan tintinya sendiri. Para peserta terpana dalam lantunan ritma-ritma hikayat sang pujangga.
Azan pun tiba, para peserta segera menuju sebuah musala yang terletak tepat di belakang gedung FKIP. Setelah salat magrib usai, ruangan bernuansa sufistik itu dipenuhi lantunan-lantuan asma Allah yang hinggap kesetiap celah ruang. Seorang ustad membaca bait-bait suci, tak ketingalan para jamah mengikuti rapi. Jamah begitu antusias menadahkan tangan, mengharap kepada Sang tuhan akan ampunan para mereka yang tenggelam.
Sesaat kemudian, Suasana tampak mencekam, ketika Akmal membacakan hikayat “Nyeri Aceh”. Perlahan Akmal keluar dari belakang panggung sambil membacakan bait-perbait hikayat Nyeri Aceh.
Akmal menuju ke arah para penonton, sebatang lilin di tangan kiri sebagai penerang lembaran hikayat. Sesekali Ia menggetarkian tangannya. Ekspresi semakin memuncak saat Akmal membacakan bait “peta-peta telah koyak, jangan kau tanyakan lagi di mana Meulaboh dimana Calang…” dengan nada meringis lantang.
Penonton hanya terdiam. Surya salah seorang penonton, mengaku sangat terharu dengan pembacaan puisi Nyeri Aceh. “saya sangat terharu” ungkapnya sambil menguluskan kedua tangan ke dada.
Tak lama kemidian, teatrikal panggung perempuan menggonjang suasana ruang. “auh…auh…” teriak beberapa orang perempuan yang merengek sambil kedua lutut menumpu ke alas. Suasana semakin menegangkan, saat teriakan lantang mengoncang sudut-sudut ruangan. Para perempuan bersaing memperebutkan keris di tangan seorang wanita tunggal. Penampilan itu mengandung makna amat dalam.
Rismawati, sutradara senior Gemasastrin mengatakan bahwa aksi teater ini mereka kemas dalam bentuk sufistik. Makna yang sangat mendasar adalah memberikan gambaran bahwa inong Aceh berwatak keras, sabar dan teguh dalam menghadapi cobaan. Selama ini perempuan Aceh tetap tegar dalam menghadapi kehidupan, mulai dari konflik sampai tsunami “inong Aceh sangat kuat dalam menghadapi tantangan hidup”, ungkap perempuan kelahiran Aceh Tengah itu.
Wirduna, Ketua Umum Gemasastrin, mengharapkan dengan pelaksanaan acara refleksi lima tahun tsunami Aceh, kiranya dapat menjadi suatu renungan bagi kita untuk mengingat akan makna kehidupan di samping mendoakan saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa dan tsunami.
Selain itu, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Menerutnya, acara ini dikemas dalam bentuk sastra sufistik bertujuan untuk memadukan sastra dengan religi yang sekarang sudah tidak sejalan lagi dalam kehidupan masyarakat Aceh khususnya. “kita ingin memadukan religi bernuansa sastra” pugkas putra kelahiran Nagan Raya.
Kita mengharapkan Gemasastrin akan dapat memproduksikan para ahli bahasa dan sastra yang tidak selalu berselimut dengan nilai-nilai agama. Dulu sastrawan Aceh selalu mengaitkan sastra dalam nuansa agama, tambahnya. Seperti Hamzah Fansuri, Aly Hasjymi, mencontohkan.
Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Unsyiah.
Sekarang sebagai Ketua Umum Gemasastrin dan aktif sebagai reporter Tobloid DETaK.
Kamis, 15 April 2010
Boh Peuneundang
kala itu
nurnya berseri
tak basi
remember me
memancar bak sang mentari
angin-angin enggan menghampiri
semua mata bertabir tuk memandangi
illa muhrimi
slalu terlindungi,
tertutupi
dari sentuhan noda, bebci, dan
tangan-tangan liar pencuri
suatu ketika
sang pejaka memilikinya
tak hanya cinta,
tak hanya jiwa,
tapi sepenuhnya
ya sepenuhnya
"senang dia", kata mereka yang pernah terpana
namun, ketika sang pejaka mencicipi
tak seperti simbol tabir dulu kala
sang bunga telah pecah dari kuntumnya
wangi pun beranjak darinya
sang pejaka pun murka, kecewa
tlah salah
salah
ya
salah melihat simbol lahir
tak sejalan dengan batin
sang pejaka meneteskan air mata
sambil terucap
"boh peuneundang pilihan hamba"
memang dunia tak mengetahuinya
walau demikian
sang pejaka tetap mencicipinya
meski madu tinggal sisa
29 Maret 2010
Ruang Kuliah RKU 4 Kampus Unsyiah
Banda Aceh
nurnya berseri
tak basi
remember me
memancar bak sang mentari
angin-angin enggan menghampiri
semua mata bertabir tuk memandangi
illa muhrimi
slalu terlindungi,
tertutupi
dari sentuhan noda, bebci, dan
tangan-tangan liar pencuri
suatu ketika
sang pejaka memilikinya
tak hanya cinta,
tak hanya jiwa,
tapi sepenuhnya
ya sepenuhnya
"senang dia", kata mereka yang pernah terpana
namun, ketika sang pejaka mencicipi
tak seperti simbol tabir dulu kala
sang bunga telah pecah dari kuntumnya
wangi pun beranjak darinya
sang pejaka pun murka, kecewa
tlah salah
salah
ya
salah melihat simbol lahir
tak sejalan dengan batin
sang pejaka meneteskan air mata
sambil terucap
"boh peuneundang pilihan hamba"
memang dunia tak mengetahuinya
walau demikian
sang pejaka tetap mencicipinya
meski madu tinggal sisa
29 Maret 2010
Ruang Kuliah RKU 4 Kampus Unsyiah
Banda Aceh
Bukan Tu(h)an
(lalu siapa perintis bekas tapakmu?)
mereka hanya melirik pelan,
tak melakukan
tak menentukan
lalu kenapa bujang dan gadis berpetaka,
pernahkah keluar sepatah kata dari mulut mereka
ataukah birasi yang duduk rapi di singgah sana.
Wirduna
Banda Aceh, 11 April 2010 jam 3:21
mereka hanya melirik pelan,
tak melakukan
tak menentukan
lalu kenapa bujang dan gadis berpetaka,
pernahkah keluar sepatah kata dari mulut mereka
ataukah birasi yang duduk rapi di singgah sana.
Wirduna
Banda Aceh, 11 April 2010 jam 3:21
Langganan:
Postingan (Atom)