Tampilkan postingan dengan label gemasastrin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gemasastrin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

Biodata Wirduna Tripa


Wirduna Tripa
Biodata Wirduna Tripa
Wirduna Tripa adalah anak dari pasangan Zainun-Nurasiah. Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara. Abangnya Tgk. Muhammad Kudra. Wirduna Tripa lahir gampong Drien Tujoh Kecamatan Tripa Makmur Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh, 29 Oktober  1988.
Riwayat Pendidikan
Di masa kecil sebelum masuk Wirduna menekuni pengajian Juzz Amma. Pengajian tersebut ia tekuni di rumah dan di pesantren. Mengaji adalah kegiatan masa kecilnya di malam hari. Beranjak usia enam tahun ia masuk Sekolah Dasar Negeri Kuala Tripa (1995-2001). Karena saat itu puncak konflik di Aceh orang tuanya pun memasukkannya di sekolah yang dekat dengan lingkungan keluarganya yaitu, SLTP Negeri 3 Darul Makmur (2001-2004). Karena di daerah gampongnya tidak ada sekolah menengah, ia pun masuk ke pesantren modern Madrasah Aliyah Darul Hikmah Islamiah Meulaboh (2004-2007).
Setelah menamatkan sekolah pada madrasah aliyah, ia pun bertekad untuk melanjutkan skuliah di perguruan tinggi. Setelah mengikuti seleksi Wirduna lulus sebagai mahasiswa di S1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. Berkat ketekunannya ia pun menyelesaikan S1 dengan predikat culaud­e (2007-2011). Selanjutnya ia pun melanjutkan S2 di Program Pascasarjana Magister Pendididkan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (2011-sekarang).
Organisasi Siswa-Kemahasiswaan
Di masa masih sekolah di MAS Darul Hikmah, Meulaboh, Wirduna pernah menjabat sebagai ketua OSIM (2005-206). Ketika di perguruan tinggi ia juga aktif di berbagai organisasi internal kampus. Wirduna pernah menjadi Pj. Sekertaris Umum Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) Unsyiah dan pada tahun berikutnya ia pun dipercayakan sebagai Ketua Umum Gemasastrin (2008-2009). Pada tahun yang sama ia juga aktif di Lembaga Pers Kampus DETaK Unsyiah, di sana ia penah menajadi Kabid. Mumas, Kabid. Perusahaan dan terakhir ia fokus pada bidang keredaksian. Selain itu, Wirduna juga diberikan kepercayaan sebagai Kabid. Informasi dan Komunikasi Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonsia se-Indonesia (IMABSII) yang sekretariat pusatnya di Universitas Negeri Jakarta (2010-2012).
Selain bergelut di organisasi internal kampus, Wirduna juga tertarik untuk telibat di organisasi paguyuban pemuda dan mahasiswa kabupaten kota. Pertama sekali ia aktif di paguyuban kecamatan sebagai Sekretaris Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Darul Makmur (Ipelmasdam) 2008-2010. Pada masa yang sama ia juga sebagai Kabid. Hubungan Antar Lemaba dan Kemasyarakatan pada Ikatan Pelajar Mahasiswa Nagan Raya (Ipelmasra) 2010-2012. Kemudian ia dan teman-teman menjadi deklarator yang membidani kelahiran sebuah organisasi besar, Forum Paguyuban Mahasiswa dan Pemuda Aceh (FPMPA) yang dalam lembaga tersebut inkrut seluruh paguyuban kabupaten kota di Aceh (2011).
Media dan Lembaga Suwadaya Masyarakat
Berbekal dari Pers Kampus dan keorganisasian, awal 2011 Wirduna diajak untuk menjadi reporter pada Majalah The CHIEK yang merupakan media LSM Prodeelat-Aceh. Kemudian pada akhir 2011, ia juga menjadi Kepala Biro Banda Aceh sebuah media nasional Jarrak Pos. Berbekal dari berbagai pengalaman tersebut, mahasiswa Pascasarjana Unsyiah itu mendirikan sebuah LSM yang bergerak dalam bidang pendidikan. Ia mendirikan lembaga tersebut atas dasar keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan di Aceh dan Indonesia umumnya. Setidaknya dengan adanya lembaga tersebut ia dapat memberikan dan menyumbangkan sesuatu terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Aceh dan Indonesia. Lembaga yang didirikannya itu adalah  Center for Educational Research and Development of the Acehnese (CERDAS) yang berpusat di ibukota Provinsi Aceh, Banda Aceh.
Aktivitas dan Kreativitas
Saat ini, selain sebagai mahasiswa pada Pascasarjana Unsyiah, ia juga sebagai Asisten Dosen di Unsyiah dan Universitas Muhammadiyah Aceh. Di luar konteks kerja, akademik, dan organisasi Wirduna juga gemar membaca dan menulis. Karyanya seperti cerpen dan artikel sering mengisi beberapa rubrik media di Aceh, seperti Serambi Indonesia, Harian Aceh dan lain-lain. Selain itu, ia juga sering mengisi pelatihan Sastra (Karya Fiksi), Jurnalistik, Leadership, dan Basic Organisasi.

Laman Sosial dan Komunikasi
Hand Phone   : 085277833707
E-mail             : wir_tripa@yahoo.com
Face Book       : Wirduna Tripa
Twitter            : Wirduna_Tripa
Web/blog       : wirduna.blogspot.com
Alamat            : Komplek Perumahan Cadek Permai, Banda Aceh.


Selasa, 27 April 2010

Gemasastrin Tampilkan Sastra Sufistik

Banda Aceh- Tidak seperti biasanya, Lobi FKIP sore itu Sabtu (26/12) disulap dengan sedemikian rupa. Kain hitam terbentang mengelilingi ruang. Sebuah panggung berdiri tegap. Di depan panggung terpasang sebuah lampu sorot yang memancarkan cahaya tepat ke latar pentas yang dibentang kain putih. Rerantingan terpajang pada setiap tiang. Seluruh ruang dikelilingi kain hitam yang terbentang. Ruang gelap, hanya tujuh batang lilin berperan sebagai penerang yang dinyalakan pada sudut-sudut ruang.

Suasana yang begitu berbeda sempat menimbulkan tanda tanya. Beberapa dari mereka (peserta) melontarkan pertanyaan pada panitia tentang suasana yang tak seperti biasanya “lho kenapa gelap sekali, apa tidak ada lampu?” ungkap salah seorang tamu, penasaran seperti memaksa akan sebuah penjelasan.

Itulah persembahan Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) dalam rangka memperingati lima tahun tsunami Aceh. Beda dengan lainnya memang. Suasana sufistik bernuansa sastra yang mereka cipta.

Nazar Alam, koordinator acara mengungkapkan bahwa kegiatan ini dikemasa dalam bentuk sastra sufistik. Selain Doa dan Zikir bersama, juga akan diisi oleh penampilan-penampilan kreteativitas Gemasastrin “acara ini kami kemas dalam bentuk sastra sufistik” imbuhnya sambil bersemangat.

Meseki langit Banda Aceh terlihat berkabut hitam, namun, kegiatan yang bertema “Kenangan Fiqih Kekasih Allah dalam Zikir Laut” tidak sedikit dikunjungi orang. Jarum jam tepat menunjukan pukul 17.00, para undangan mulai mengisi kursu depan ruang Lobi. Mulai dari para sastrawa, alumni mahasiswa kebahasaan dan dari berbagi kalangan memenuhi ruang remang-remang yang dikelilingi bentangan kain hitam.

Secara bergantian, para sastrawan membacakan hikayat tsunami dalam cahaya remang-remang.
“Hikayat ini saya persembahkan untuk korban tsunami” ungkap T.A Sakti sambil mengambil membuka sebuah buku kumpulan hikayat. Dengan penuh semangat, T.A Sakti melafalkan bait-bait hikayat goresan tintinya sendiri. Para peserta terpana dalam lantunan ritma-ritma hikayat sang pujangga.

Azan pun tiba, para peserta segera menuju sebuah musala yang terletak tepat di belakang gedung FKIP. Setelah salat magrib usai, ruangan bernuansa sufistik itu dipenuhi lantunan-lantuan asma Allah yang hinggap kesetiap celah ruang. Seorang ustad membaca bait-bait suci, tak ketingalan para jamah mengikuti rapi. Jamah begitu antusias menadahkan tangan, mengharap kepada Sang tuhan akan ampunan para mereka yang tenggelam.

Sesaat kemudian, Suasana tampak mencekam, ketika Akmal membacakan hikayat “Nyeri Aceh”. Perlahan Akmal keluar dari belakang panggung sambil membacakan bait-perbait hikayat Nyeri Aceh.

Akmal menuju ke arah para penonton, sebatang lilin di tangan kiri sebagai penerang lembaran hikayat. Sesekali Ia menggetarkian tangannya. Ekspresi semakin memuncak saat Akmal membacakan bait “peta-peta telah koyak, jangan kau tanyakan lagi di mana Meulaboh dimana Calang…” dengan nada meringis lantang.

Penonton hanya terdiam. Surya salah seorang penonton, mengaku sangat terharu dengan pembacaan puisi Nyeri Aceh. “saya sangat terharu” ungkapnya sambil menguluskan kedua tangan ke dada.

Tak lama kemidian, teatrikal panggung perempuan menggonjang suasana ruang. “auh…auh…” teriak beberapa orang perempuan yang merengek sambil kedua lutut menumpu ke alas. Suasana semakin menegangkan, saat teriakan lantang mengoncang sudut-sudut ruangan. Para perempuan bersaing memperebutkan keris di tangan seorang wanita tunggal. Penampilan itu mengandung makna amat dalam.


Rismawati, sutradara senior Gemasastrin mengatakan bahwa aksi teater ini mereka kemas dalam bentuk sufistik. Makna yang sangat mendasar adalah memberikan gambaran bahwa inong Aceh berwatak keras, sabar dan teguh dalam menghadapi cobaan. Selama ini perempuan Aceh tetap tegar dalam menghadapi kehidupan, mulai dari konflik sampai tsunami “inong Aceh sangat kuat dalam menghadapi tantangan hidup”, ungkap perempuan kelahiran Aceh Tengah itu.

Wirduna, Ketua Umum Gemasastrin, mengharapkan dengan pelaksanaan acara refleksi lima tahun tsunami Aceh, kiranya dapat menjadi suatu renungan bagi kita untuk mengingat akan makna kehidupan di samping mendoakan saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa dan tsunami.

Selain itu, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Menerutnya, acara ini dikemas dalam bentuk sastra sufistik bertujuan untuk memadukan sastra dengan religi yang sekarang sudah tidak sejalan lagi dalam kehidupan masyarakat Aceh khususnya. “kita ingin memadukan religi bernuansa sastra” pugkas putra kelahiran Nagan Raya.

Kita mengharapkan Gemasastrin akan dapat memproduksikan para ahli bahasa dan sastra yang tidak selalu berselimut dengan nilai-nilai agama. Dulu sastrawan Aceh selalu mengaitkan sastra dalam nuansa agama, tambahnya. Seperti Hamzah Fansuri, Aly Hasjymi, mencontohkan.

Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Unsyiah.
Sekarang sebagai Ketua Umum Gemasastrin dan aktif sebagai reporter Tobloid DETaK.