Tampilkan postingan dengan label wirduna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wirduna. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juli 2010

Delegasi Gemasastrin, Pengurus Pusat IMABSII


Jakarta- Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSII) mengelar Seminar dan Kongres Nasional (12-15/7) bertempat di Universitas Negeri Jakarta, Jakarta Pusat.

Kongres tersebut membahas tentang pergantian kepengurusan dan pemilihan Sekretaris Jenderal (Sekjen) IMABSII Periode 2010-2012. Banardi Zakarya, Sekjen IMABSII periode 2004-2010 terlihat terharu pada kongres tersebut. Sebanarnya, sebut Banardi, kongres ini berlangsung tahun lalu tatapi tidak dapat dilaksanakan karena kurang kesiapan dari tuan rumah yang telah ditunjuk saat kongres pertama di Makasar. “Kita sangat bersyukur atas terlaksananya kongres ini,” katanya saat memberikan sambutan.

Dari hasil pemilihan, akhirnya Ahmad Muliadi, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terpilih menjadi ketua IMABSII periode 2010-2012 setelah menyisihkan empat kandidat lainnya. Sementara itu, dari enam departeman kepengurusan IMABSII, Wirduna dari Gemasastrin FKIP Unsyiah terpilih sebagai Ketua Departeman Informasi dan Komunikasi IMABSII masa kepengurusan 2010-2012.

Sabtu, 03 Juli 2010

MKN: Mahasiswa Ujung Tombak Kedaulatan Bangsa


DETaK| Wirduna Tripa
Banda Aceh- “Peran mahasiswa dan perguruan tinggi sangatlah urgen untuk menjaga dan mengawasi kedaulatan bangsa ini” demikian diutarakan Menteri Ketahanan Nasional Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro, MA, M. Sc, Ph. D., saat memberikan kuliah umum di gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Sabtu (3/6).
Saat ini pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, yang berdampak terhadap pelecehan atau pengambilan wilayah yang sudah menjadi milik Indonesia. Sebagai terobosannya pemerintah sekarang sudah menambah prajurit Tentara Negara Indonesia (TNI) baik angkatan darat, laut, maupun udara “Kita sudah mempunyai cukup banyak personil untuk menjaga kedaulatan negara ini” ungkap Purnomo.
Lanjutnya, namun demikian yang harus menjadi perhatian semua pihak bahwa kondisi personil TNI sekarang masih belum begitu baik, seperti fasilitas, dan sosial ekonomi yang belum berimbang.
Menanggap pertanyaan dari perserta terkait terobosan untuk menjaga pulau agar tidak diklaim oleh gegara asing, ia menjalaskan bahwa ke depan pemerintah akan berusaha untuk membuat monumen di setiap pulau yang sudah menjadi milik dan daerah editorial Indonesia “Kita telah dan akan membuat monumen pada setiap pulau” tandasnya tegas.

Dalam kesempatan itu, Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Darni M. Daud, MA., mengaharapkan agar mahasiswa dapat menjadi ujung berperan dalam menjaga ketahan dan kedaulatan Indonesia di masa mendatang. Bangsa ini sangat bergantung dari peran kaum akademisi, “Peran mahasiswa sangat signifikan dalam menamkan nilai nasionalisme, sehingga negara ini akan merasa dimiliki” tuturnya.

Minggu, 27 Juni 2010

Ayah "Muhammad Gam"

Wirduna Tripa
(Telah dimuat di Serambi Indonesia, 27 Juni 2010)KEMARAU telah lewat. Tiga pekan sudah hujan menguyur tanah kering ini, pertanda musim hujan. Cahaya matahari perlahan menghilang di ujung laut biru, hilang berganti gelap. Dikeheningan senja, Nek Lot masih di lampoh Cek Amat. Ia membabat setengah rante rumput karena esoknya akan berpindah kerja ke lampoh jagung milik Keuchik Adam. Dalam sepuluh tahun terakhir ini Nek Lot sudah menggeluti pekerjaan sebagai tung upah (upahan). Sejak Nek Gam meninggal, kehidupan Nek Lot memang tak menentu lagi yang harus berjuang sendiri agar bisa mengisi perut. Usianya yang renta apalagi bekerja sebagai tung upah, seharusnya ia beristirahat. Tapi semua ini harus dilakukan untuk bisa menyambung hidup di tengah beban yang saat ini makin berat.

Nek Lot hanya mewarisi sepetak tanah yang ditumbuhi coklat warisan Nek Gam, suaminya. Tapi tanah itu pun dirampas, setelah Pak Geuchik mengatakan tanah itu milik PT. Padahal setahunya sudah lima puluh tahun ia sebelum ia menikah dengan Nek Gam, tanah itu sudah ditempati. Tapi dikatakan milik PT, ya sudahlah. Nek Lot pasrah dan menyerahkan semua itu pada Yang Kuasa. Hari-hari dijalani Nek Lot. Biasanya sepulang ia dari tung upah, selalu membawa pulang beras sekantung plastic hitam dan beberapa ons ikan kase asin. Kadang kalau ia tak mendapatkan kerja, ia memberanikan diri menghutang di kedai Po Insyah. Untung Po Insyah yang selama ini begitu berbaik hati mau memberi hutang padanya.

Senja itu, Nek Lot setelah salat magrib menyuruh saya untuk berdoa dengan menadahkan tangan. “Kalau kita berdoa, pasti Allah mengabulkan dan memudahkan rezki kita,” ujarnya dengan suara serak. Waktu itu saya tak tahu apa yang harus bacakan. Untunglah Nek Lot hanya menyurus mengucapkan amin, amin, amin…di sela-sela bacaan doanya. Saya seperti bosan mengikuti Nek Lot, tapi suatu magrib, ia kembali menyuruh. Kali ini saya saya tidak menuruti perintahnya, tapi hanya duduk di belakang Nek Lot dan diam. Maka seusai ia berdoa, Nek Lot menjadi marah.

“Kenapa kamu tidak mengucapkan “amin” tadi?” serunya.
“Ima sudah bosan mengucapkan amin…amin… dan, amin… setiap malam” jawabku.
“Ima…! Kenapa kau berkata seperti itu Nak?” timpal Nek Lot.
“Capek! Setiap malam mengucapkan, tapi tak juga diberi uang yang banyak. Buktinya Nek Lot setiap sore hanya membawa pulang sekantung beras,” sanggahku.

Paginya, kulihat Nek Lot duduk di jambo belakang rumah. Tampak airmata meleleh dari pipinya yang sudah keriput. Bola mata yang dulu tajam, seperti tak lagi bercahaya.
“Mengapa Nek Lot menangis?” ketusku
“Kalau saja ayahmu masih hidup,” gumannya.
Pagi menjadi begitu mendung padahal matahari sudah cerah setinggi gala. Nek Lot hanya diam, kecuali menyebut ayah yang katanya meninggal di hutan setelah bertempur dengan gerombolan loreng. Saya tak tahu apa maksud gerombolan goreng. Kecuali pernah mendengar kata Pak Geuchik, bahwa saya anak kombatan akan disantuni oleh pemerintah karena ayah saya dulu meninggal di hutan. Tetapi sampai sekarang Pak Geuchik tak pernah berkata apa-apa lagi pada Nek Lot.

“Apa mungkin Pak Geuchik sudah lupa ya?” besitku.
Andai saja santunan ini masih berlanjut, saya mungkin tak perlu risau ketika saat ini sudah tamat SD untuk bisa melanjutkan ke SMP. Tapi sudah tiga kali saya tanyakan itu kepada Nek Lot, ia tak pernah mau membuka mulut. Saya tak berani menanyakan hal itu pada Pak Geuchik. Sebab saya dengar ia sekarang begitu sibuk mengurusi perkara tanah warga.
Ayah saya disebut-sebut “kombatan”. Tidak tahu kenapa orang-orang menggantinya nama ayah. Padahal yang saya tahu namanya Muhammad Gam, bukan kombatan.***

* Wirduna Tripa adalah mahasiswa PBSI, pengurus Gemasastrin FKIP Unsyiah.

Selasa, 27 April 2010

Gemasastrin Tampilkan Sastra Sufistik

Banda Aceh- Tidak seperti biasanya, Lobi FKIP sore itu Sabtu (26/12) disulap dengan sedemikian rupa. Kain hitam terbentang mengelilingi ruang. Sebuah panggung berdiri tegap. Di depan panggung terpasang sebuah lampu sorot yang memancarkan cahaya tepat ke latar pentas yang dibentang kain putih. Rerantingan terpajang pada setiap tiang. Seluruh ruang dikelilingi kain hitam yang terbentang. Ruang gelap, hanya tujuh batang lilin berperan sebagai penerang yang dinyalakan pada sudut-sudut ruang.

Suasana yang begitu berbeda sempat menimbulkan tanda tanya. Beberapa dari mereka (peserta) melontarkan pertanyaan pada panitia tentang suasana yang tak seperti biasanya “lho kenapa gelap sekali, apa tidak ada lampu?” ungkap salah seorang tamu, penasaran seperti memaksa akan sebuah penjelasan.

Itulah persembahan Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) dalam rangka memperingati lima tahun tsunami Aceh. Beda dengan lainnya memang. Suasana sufistik bernuansa sastra yang mereka cipta.

Nazar Alam, koordinator acara mengungkapkan bahwa kegiatan ini dikemasa dalam bentuk sastra sufistik. Selain Doa dan Zikir bersama, juga akan diisi oleh penampilan-penampilan kreteativitas Gemasastrin “acara ini kami kemas dalam bentuk sastra sufistik” imbuhnya sambil bersemangat.

Meseki langit Banda Aceh terlihat berkabut hitam, namun, kegiatan yang bertema “Kenangan Fiqih Kekasih Allah dalam Zikir Laut” tidak sedikit dikunjungi orang. Jarum jam tepat menunjukan pukul 17.00, para undangan mulai mengisi kursu depan ruang Lobi. Mulai dari para sastrawa, alumni mahasiswa kebahasaan dan dari berbagi kalangan memenuhi ruang remang-remang yang dikelilingi bentangan kain hitam.

Secara bergantian, para sastrawan membacakan hikayat tsunami dalam cahaya remang-remang.
“Hikayat ini saya persembahkan untuk korban tsunami” ungkap T.A Sakti sambil mengambil membuka sebuah buku kumpulan hikayat. Dengan penuh semangat, T.A Sakti melafalkan bait-bait hikayat goresan tintinya sendiri. Para peserta terpana dalam lantunan ritma-ritma hikayat sang pujangga.

Azan pun tiba, para peserta segera menuju sebuah musala yang terletak tepat di belakang gedung FKIP. Setelah salat magrib usai, ruangan bernuansa sufistik itu dipenuhi lantunan-lantuan asma Allah yang hinggap kesetiap celah ruang. Seorang ustad membaca bait-bait suci, tak ketingalan para jamah mengikuti rapi. Jamah begitu antusias menadahkan tangan, mengharap kepada Sang tuhan akan ampunan para mereka yang tenggelam.

Sesaat kemudian, Suasana tampak mencekam, ketika Akmal membacakan hikayat “Nyeri Aceh”. Perlahan Akmal keluar dari belakang panggung sambil membacakan bait-perbait hikayat Nyeri Aceh.

Akmal menuju ke arah para penonton, sebatang lilin di tangan kiri sebagai penerang lembaran hikayat. Sesekali Ia menggetarkian tangannya. Ekspresi semakin memuncak saat Akmal membacakan bait “peta-peta telah koyak, jangan kau tanyakan lagi di mana Meulaboh dimana Calang…” dengan nada meringis lantang.

Penonton hanya terdiam. Surya salah seorang penonton, mengaku sangat terharu dengan pembacaan puisi Nyeri Aceh. “saya sangat terharu” ungkapnya sambil menguluskan kedua tangan ke dada.

Tak lama kemidian, teatrikal panggung perempuan menggonjang suasana ruang. “auh…auh…” teriak beberapa orang perempuan yang merengek sambil kedua lutut menumpu ke alas. Suasana semakin menegangkan, saat teriakan lantang mengoncang sudut-sudut ruangan. Para perempuan bersaing memperebutkan keris di tangan seorang wanita tunggal. Penampilan itu mengandung makna amat dalam.


Rismawati, sutradara senior Gemasastrin mengatakan bahwa aksi teater ini mereka kemas dalam bentuk sufistik. Makna yang sangat mendasar adalah memberikan gambaran bahwa inong Aceh berwatak keras, sabar dan teguh dalam menghadapi cobaan. Selama ini perempuan Aceh tetap tegar dalam menghadapi kehidupan, mulai dari konflik sampai tsunami “inong Aceh sangat kuat dalam menghadapi tantangan hidup”, ungkap perempuan kelahiran Aceh Tengah itu.

Wirduna, Ketua Umum Gemasastrin, mengharapkan dengan pelaksanaan acara refleksi lima tahun tsunami Aceh, kiranya dapat menjadi suatu renungan bagi kita untuk mengingat akan makna kehidupan di samping mendoakan saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa dan tsunami.

Selain itu, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Menerutnya, acara ini dikemas dalam bentuk sastra sufistik bertujuan untuk memadukan sastra dengan religi yang sekarang sudah tidak sejalan lagi dalam kehidupan masyarakat Aceh khususnya. “kita ingin memadukan religi bernuansa sastra” pugkas putra kelahiran Nagan Raya.

Kita mengharapkan Gemasastrin akan dapat memproduksikan para ahli bahasa dan sastra yang tidak selalu berselimut dengan nilai-nilai agama. Dulu sastrawan Aceh selalu mengaitkan sastra dalam nuansa agama, tambahnya. Seperti Hamzah Fansuri, Aly Hasjymi, mencontohkan.

Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Unsyiah.
Sekarang sebagai Ketua Umum Gemasastrin dan aktif sebagai reporter Tobloid DETaK.